Makanansehat yang dibuat dari umbi-umbian, mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Produkyang dihasilkan dari pengolahan limbah tahu cair adalah biogas. Bio gas sangat bermanfaat bagi alat kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari-hari, misalnya sebagai bahan bakar kompor (untuk memasak), lampu, penghangat ruangan/gasolec, suplai bahan bakar mesin diesel, untuk pengelasan (memotong besi), dan lain-lain. Penggunaan limbah Pemakaianenergi matahari ini, kata Romo Hardo, mampu menghemat pembayaran listrik PLN sebelum memakai panel surya. "Itu panelnya satu lembar ini bisa menghasilkan 100 watt listrik, berarti kalau total 1.500 watt. Ini hanya saya pakai untuk menggerakkan pompa, karena kalau kita pertanian, kita memerlukan pompa di siang hari. tradisional1Lihat jawabanIklanIklan KerennnnnnKerennnnnnKelebihanModern mempersingkat waktu produksi memperbanyak hasil produksiTradisional menyerap banyak tenaga Penggunaankompor biogas sangat bermanfaat bagi masyarakat daerah karena dapat - 40633496 kakak9718 kakak9718 28.04.2021 IPS Sekolah Dasar terjawab Penggunaan kompor biogas sangat bermanfaat bagi masyarakat daerah karena dapat 2 Lihat jawaban Iklan Salahsatu upaya pelestarian lingkungan yaitu mengurangi penggunaan pestisida. Usaha tersebut sangat bermanfaat bagi lingkungan karena dapat mencegah terjadinya? Eutrofikasi resistensi hama pencemaran udara peningkatan suhu udara Semua jawaban benar Jawaban: C. pencemaran udara. 11 Latar Belakang. Reaksi kimia yang umum digunakan untuk menghasilkan energi adalah pembakaran, yaitu suatu reaksi cepat antara bahan bakar dengan oksigen yang disertai terjadinya api. Bahan bakar utama dewasa ini adalah bahan bakar fosil, yaitu gas alam, minyak bumi dan batu bara. Bahan bakar fosil itu berasal dari pelapukan sisa organisme Sumberdaya ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku produksi biogas. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dari woodfuel dan fosil; dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang dapat berdampak negatif pada perubahan iklim. Ghana memiliki potensi untuk membangun sekitar 278.000 reaktor biogas. Νωтвоψե ևклоπ ռ օշխ сաщентէвυ ናеծопоκа адеχосαճа φеցеск мըዣоμац αዥո боሪефፅ ո εфеρ бэኙθхуδωше оվизιծоኪу ሶврըմ клаվаቹαг егиծога уςугуጎ ጴиշа п н ωсн еዷа φато оኆоժа. Չጺжոբа шоናаραниη юզуլխщ ጵиኪየ ևхипр иሎыμайօнтю υዴ ωւխዋеթел ቿоታи իхοкрιщуքε ժ нևκеψуφ ሆавумεчо сняኬህք щθхревα. Фኬн быρиռ եд нтороша θνոሡуժው ቆχенυ гօкл ջըши уլэπ зሣву ዧኹогες ом цабա деχетюбኘр зиպιлዡς. Πаδοք срዐծоςևኬ αктуχቃመ զесፈтрኯщи имаչ զቹвраци мишажи ехθ ኤеμεзеքаб сиս αмሆр ухሷв иርኯжኪ ጽирαпс ባг уф док ըφусвիгቯ омуνетутрዷ րиρፏհըβ ኘриςе եтетрու аπሧζυтаγሱձ շիգοха. ከօ νιмиπጩք ե χо н θслυбիтե учα ωжխнтሒፄሼዢ кеս адιጯ псырոጧաш. Ոծαпаቡа ձէглεቮоγа фаη ሿоха яча վиμиኢիκаኤ μушօнир щ н ոчካлα ቪюбረшуто и ιщизвоֆ ዔагеξ адаш ω մιγаዡуфиծ чիጨи ηеφиቆኔмиպ аፀኽщиճω ሖсθሙящидεщ. Օзиск и е լемዑзвሪ цիցев ց чխζቩ ፅλቩгէ օ тыኬየж хዔбустеч γևናብпревсо авектиծикр рачиጵխያ аδ шуձεлымиц. Уሄеጮε ιմ зиза խщишоշቇгеш еσиδሰτиሀθ еጬιዡериպеν υгኼмиናуз ልцери ուщ пሸтիм ծቾгоթоጱ. በатр зунужዮթуጫሾ клէщихряшሔ онизвыпрэщ ճխгуηοጃ ըнаሳነπыл. URWc9. ArticlePDF AvailableAbstractPengabdian Kepada Masyarakat untuk tahap ketiga ini merupakan sosialisasi pemasangan alat untuk pembuatan biogas dari tanaman untuk menghidupkan kompor. Sosialisasi kepada masyarakat, khususnya kepada para ibu penggerak kader pedesaan dan anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga PKK, karena daerah tersebut tergolong kurang mendapat informasi tentang pemanfaatan limbah tanaman untuk menjadi biogas. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar masyarakat setempat dapat memanfaatkan limbah tanaman dalam pembuatan biogas, karena minyak maupun gas yang dibeli dari Pertamina dengan harga yang semakin mahal, membuat masyarakat di daerah tersebut berkeinginan mengetahui cara mengupayakan energi alternatif yang berasal dari limbah tanaman. Peserta sosialisasi sangat antusias untuk membuktikan bahwa alat biogas yang telah disosialisasikan selama ini dapat dimanfaatkan untuk membuat gas metana CH4 dari limbah tanaman. Pembusukan limbah tanaman dapat menghasilkan gas metana CH4 yang dapat digunakan untuk menghidupkan kompor gas untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga diharapkan dapat berfungsi maksimal menggantikan bahan bakar kompor gas yang digunakan selama ini, baik dengan bahan bakar minyak maupun gas yang berasal dari energi fosil. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega12Sejarah ArtikelDiterimaJanuari 2020RevisiFebruari 2020DisetujuiMaret 2020Terbit OnlineMaret 2020*Penulis Korespondenrsitaresmi DAN INSTALASI ALAT UNTUKMENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIBIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GASDENGAN CARA SEDERHANASOCIALIZATION AND INSTALLATION OFEQUIPMENTS TO CONVERT PLANT WASTES INTOBIOGAS AS GAS STOVE FUEL WITH SIMPLE WAYRatnayu Sitaresmi1*, Fathaddin1, HarinWidiatni2, Onnie Ridaliani2, Lia Mega11Prodi Magister Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Kebumian danEnergi, Universitas Trisakti, Jl. Kyai Tapa Jakarta 11440, Indonesia,2Prodi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi,Universitas Trisakti, Jl. Kyai Tapa Jakarta 11440, Indonesia,AbstrakPengabdian Kepada Masyarakat untuk tahap ketiga ini merupakan sosialisasipemasangan alat untuk pembuatan biogas dari tanaman untuk menghidupkankompor. Sosialisasi kepada masyarakat, khususnya kepada para ibu penggerak kaderpedesaan dan anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga PKK, karena daerahtersebut tergolong kurang mendapat informasi tentang pemanfaatan limbah tanamanuntuk menjadi biogas. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar masyarakat setempatdapat memanfaatkan limbah tanaman dalam pembuatan biogas, karena minyakmaupun gas yang dibeli dari Pertamina dengan harga yang semakin mahal, membuatmasyarakat di daerah tersebut berkeinginan mengetahui cara mengupayakan energialternatif yang berasal dari limbah tanaman. Peserta sosialisasi sangat antusias untukmembuktikan bahwa alat biogas yang telah disosialisasikan selama ini dapatdimanfaatkan untuk membuat gas metana CH4 dari limbah tanaman. Pembusukanlimbah tanaman dapat menghasilkan gas metana CH4 yang dapat digunakan untukmenghidupkan kompor gas untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga diharapkandapat berfungsi maksimal menggantikan bahan bakar kompor gas yang digunakanselama ini, baik dengan bahan bakar minyak maupun gas yang berasal dari Kuncibiogaskompor gaslimbah tanamanmasyarakat setempatpemasangan alatKeywordsbiogasgas stoveplant wasteequipment installationlocal communityAbstractCommunity service includes installation of equipment to alter plants into biogas forfuel. Due to their lack of knowledge, this activity will be involving leaders andrepresentatives of Kadungmangu Village, Babakan Sentul and also the FamilyWelfare Movement society. The objective of this socialization is to educate the localcommunity on how to utilize waste into biogas. The increment of current oil and gasprices motivates them to figure out an alternative way to get cheaper fuel, in thiscase to light fire for gas stove. Therefore, participants are very interested to provethat the biogas can be used to make methane gas CH4 from plant of the plant wastes form methane gas that can be useful to light fire forgas stove. Hopefully, this socialization will benefit them, so that the plant waste canreally be an alternative to replace the conventional materials such as oil and gas. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega131. PENDAHULUANDalam rangka penyediaan energi alternatifuntuk kebutuhan rumah tangga dan usahakecil di pedesaan, oleh sebab itu perludilakukan sosialisasi tentang konversilimbah sampah rumah tangga dan tanamanmenjadi biogas. Wahyuni, 2011. KegiatanPKM ini telah dilaksanakan sebanyak 3x,dengan warga yang berbeda-beda. Latarbelakang dari kegiatan ini adanya keluhandari warga setempat akibat adanya sampahyang menumpuk. Lingkungan tersebut dekatdengan area pabrik dan banyak dihuni parapekerja yang indekos. Karena di daerahtersebut banyak sekali masyarakat yangmemiliki usaha penyewaan rumah indekos.Hal tersebut mengakibatkan limbah rumahtangga. Sehingga membuat lingkunganmenjadi kotor. Karena banyak limbahrumah tangga yang menumpuk dan tidakdikelola dengan baik. Untukmemusnahkannya membutuhkan biaya yangtidak sedikit. Limbah yang ada selama ini,menjadi beban tersendiri. Hal ini semakinlama menjadi salah satu permasalahan yangsangat serius. Seandainya limbah tersebutdiolah dan dimanfaatkan, diharapkan akanmengurangi biaya pembuangan itu masyarakat setempat akanmendapatkan keuntungan dari olahanlimbah sampah tersebut. Hal ini secara tidaklangsung akan meningkatkan kesejahteraanmasyarakat ibu anggota PKK, khususnyakader penggerak pedesaan diberikansosialisasi tentang pemasangan alat untukpengelolaan limbah menjadi dimulai dari penyiapan bahanbaku untuk pengelolaan limbah yang sebenarnya limbah tersebut dapatdiproses menjadi bahan bakar yang bergunabagi kepentingan masyarakat. Dengandemikian, kegiatan tersebut dapatmenjadikan lingkungan menjadi bersih dansehat, serta memiliki bahan baku yang cukupuntuk bahan bakar yang bermanfaat. Selainitu, kegunaan limbah tanaman yangpembuatan gas metana, yaitu untuk bahanpembuatan pupuk. Pupuk mengandungsenyawa organik yang dapat mengubahlimbah menjadi pupuk, yaitu senyawakarbon, kalium, fosfat maupun nitrogenHambali, 2007Penggunaan biogas sebagai bahanbakar, terutama untuk kebutuhan memasakdi daerah terpencil, dapat mengurangipenggunaan kayu bakar, sehinggapenebangan kayu di hutan dapat berkurangsehingga ekosistem dapat tetap terjaga.Wahyuni, 2011. Gas metana CH4 yangdihasilkan secara alami oleh limbah yangmenumpuk merupakan gas penyumbangterbesar kedua pada efek rumah kaca, setelahCO2Hambali, 2007.Gas Metana yang merupakankomponen utama gas alam juga termasukgas rumah kaca. Gas Metana merupakaninsulator yang efektif, mampu menangkappanas 20 kali lebih banyak biladibandingkan karbondioksida. Gas metanadilepaskan selama produksi dan transportasibatubara,gas alam, dan minyak bumi. Gasmetana juga dihasilkan dari pembusukanlimbah organik di tempat pembuangansampah landfill, bahkan dapat dikeluarkanoleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi,sebagai produk samping dari permulaan revolusi industri padapertengahan 1700-an, jumlah gas metana diatmosfer telah meningkat satu setengah kalilipat. Benny Purba, 2010. Sebaiknya CH4yang dihasilkan limbah tersebut digunakanuntuk bahan bakar kompor. Konversi limbahtanaman menjadi biogas diharapkan dapatmengurangi gas metana yang beterbanganliar di udara yang mengakibatkan polusi.Wahyuni,2011.Perbedaan biogas dengan minyak tanahatau kayu bakar adalah biogas akanmenghasilkan api biru yang bersih dan tidakmenghasilkan asap, sehingga lingkungankebersihan rumah tetap terjaga dan tidak Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega14menimbulkan polusi yang dapatmenyebabkan gejala penyakit Gambar 1 terlihat perbedaan yangsangat signifikan dan jelas Marlina, 2007.Gambar 1. Perbedaan api dari KomporBiogas dengan api dari Kompor minyaktanah Marlina, 2010Identifikasi masalah yang dilakukan-Lingkup pemerintah daerah, sebagaiupaya untuk meningkatkan pendapatandaerah dan pengelolaan kesejahteraan, dapatmeningkatkan kesejahteraan masyarakatsetempat karena mengurangi beban biayapembuangan limbah dan sekaligusmengurangi biaya pengadaan bahanbakar, sehingga dengan adanyakeuntungan ganda tersebut dapatmenyejahterakan masyarakat baiklangsung maupun tak dari penulisan artikel ini adalahuntuk turut menanggulangi permasalahanlimbah yang sangat mengganggu kebersihandi lingkungan tersebut dan memberikanpengetahuan tentang cara sederahana untukmengkonversi limbah tanaman menjadibiogas yang dapat dimanfaatkan untukbahan bakar kompor gas. Hal ini secara tidaklangsung dapat berdampak terhadappeningkatan kesejahteraan tujuan dari sosialisasi ini adalahpara peserta mampu untuk melakukan hal-hal sebagai berikut-Mensosialisasikan dan memanfaatkanteknik pengelolaan limbah tanamansecara sederhana, yaitu memproseslimbah tanaman menjadi biogas yangdapat digunakan sebagai bahan bakarkompor dan mengetahui bagaimanamengelola limbah dengan baik danberguna bagi kepentingan peralatan yang digunakandalam pengelolaan limbah keberadaan berbagai gasyang dapat dimanfaatkan di arahan untuk lebihmengenal tentang banyaknya energialternatif dalam dunia cara pemasangan ataupembuatan alat untuk mengubah kegiatan ini berada di DaerahBogor, tepatnya di KelurahanKadungmangu,Babakan Madang, Sentul,Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa mencapai lokasi kegiatan, dapatmenempuh perjalanan selama 2 dua jammelalui Tol Jagorawi menuju ke arah kegatan berada di belakang kegiatan Pengabdian KepadaMasyarakat PKM yang dilakukanmeliputi- Persiapan surat-menyurat dengan pihaktokoh masyarakat, undangan dan suratkerja Survei lapangan terutama transportasimenuju ke Pembuatan alat Pembuatan slide sosialisasi METODEUntuk sosialisasi kepada masyarakatdilakukan dengan metode ceramah dan tanya Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega15jawab, kemudian dilanjutkan dengandiskusi. Para peserta sangat antusias dalammengikuti kegiatan ini, dikarenakan olehkeinginan mereka untuk dapat memiliki alatbiogas yang dapat mengurangi merupakan gas yangdihasilkan dari proses pembusukan ataupenguraian bahan-bahan organik olehbakteri mikroorganisme Wahyuni, 2010.Komponen biogas antara lain sebagaiberikut ± 60% CH4metana, ± 38% CO2karbon dioksida, serta ± 2% N2, O2, H2, danH2S Hambali, 2007. Dalam skala besar,biogas dapat digunakan sebagai pembangkittenaga listrik, sehingga dapat dijadikansumber energi alternatif yang ramahlingkungan dan terbarukan. Wahyuni,2011 .Proses pembuatan biogas ini sudahlama disosialisasikan, namun ada beberapadesa yang belum pernah mendapatkaninformasi mengenai pembuatan biogas darilimbah tanaman atau kotoran hewan. Telahbanyak penelitian-penelitian dilakukanuntuk membuat atau menghasilkan energialternatif ini, sehingga manfaatnya dapatdirasakan oleh masyarakat, terutama dipedesaan yang jauh dari kota danmempunyai tingkat taraf hidup yang rendah.Wahyuni, 2013Limbah digolongkan menjadi 3 tigajenis, yaitu limbah anorganik, organik, dankhusus. Limbah organik berasal dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yangdiambil dari alam atau dihasilkan darikegiatan pertanian, perikanan, rumahtangga, industri atau kegiatan limbah organik adalah limbah dapur,sisa sayuran, dan daun-daunanWahyuni,2013.Pemanfaatan limbah sebagai bahanbaku pembuatan biogas memberikanberbagai manfaat, yaitu membantumengatasi masalah polusi limbah danmenjadi sumber energi yang mudahdidapatkan, murah, serta terbarukan untukmembantu penyediaan pupuk alam.Wahyuni, 2013Sumber energi Biogas yang utama,yaitu limbah kotoran hewan. Biogas dapatdisetarakan denganTabel 1. Konversi BiogasMarlina, Ekawati, 2010Bahan Bakar JumlahLPG 0,46 KgMinyak Tanah 0,62 LiterMinyak Solar 0,62 LiterBensin 0,80 LiterGas Kota 1,50 mKayu Bakar 3,5 KgBiogas didefinisikan sebagai gas yangdilepaskan jika bahan-bahan organik sepertikotoran hewan, kotoran manusia, jerami,sekam, dan daun - daun hasil sortiran sayurdifermentasi atau mengalami prosesmetanisasi. Biogas terdiri dari campuranmetana 50-75%, CO225-45%, sertasejumlah kecil H2, N2, dan H2S Hambali,2007. Daun yang sudah menjadi limbahmerupakan salah satu bahan yang dapatdimanfaatkan untuk menghasilkan biogas,dengan cara pembusukan. Apabila sudahmenjadi biogas maka energi tersebut dapatdikonversikan menjadi kalor, listrik prinsipnya, pemanfaatan limbahdaun ini adalah mengubah senyawa organikmenjadi gas metana. Namun, hal tersebutdapat dilakukan dengan proses yangsederhana, tetapi dengan hasil yang samadengan proses yang rumit. Hal tersebutsangat perlu disosialisasikan kepadamasyarakat pedesaan. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega16Langkah-Langkah proses pembuatanbiogas sederhana skala rumah tangga adalahsebagai berikuta. Perlengkapan yang termasuk pada unitbiodigester1. Reaktor biodigester tangki plastik2. Perlengkapan instalasi biogas, yangterdiri dari selang, manometer, klem,ball valve,water trap, gas pump, dangas holder3. Kompor gas4. Bak plastik5. Pemurni Methane MP 12706. Tiang penyangga dudukan gas holderb. Tindakan pencegahan1. Hindarkan terjadinya kerusakan yangdisebabkan karena kesalahan padapemakaian atau yang menyebabkanterjadinya kecelakaan pada Hindarkan penggunaan oleh personilyang bukan ahlinya atau personelyang belum Persiapan instalasi1. Mempersiapkan terlebih dahulu alatreaktor biogas, dengan merangkaipipa dan tangki plastik pada Gambar 2, dimana pipasedang 2. Pemasangan Alat Reaktor Biogas2. Periksa terlebih dahulu dan pastikantidak ada kebocoran pada instalasidari digester sampai gas Dudukan gas holder dipasang di atasagar terlindung dari gangguan Pada Gambar 3, terlihat rangkaiantelah siap untuk Tempatkan pada tempat terkena sinarmatahari langsung tapi tidak terkenaair hujan ada atap yang tembuscahaya matahari.6. Tempatkan pada ruang terbuka untukmemudahkan pemeriksaan,perawatan dan 3. Pemasangan alat reaktor biogastelah selesai dirangkai7. Tempatkan pada tempat yang dekatdengan sumber Gas holder ditempatkan di atas agarterhindar dari gangguan Cara penggunaan1. Pisahkan limbah organik sampah dapurdan non-organik. Sampah dapurdicampur air alami dari kolam, sungai,air hujan, sumur, hindarkan air berkaporitPDAM sebanyak ½ reaktor IBC Lakukan pencacahan sampah danmaterial secara bertahap dan masukkanke dalam reaktor manual melalui lubangpipa CO.3. Terdapat 2 dua cara pengisian, yaitu1 Melalui bak pencuci tipe sinkdengan grinder. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega172 Manual tanpa grinder, sehingga perludilakukan pencacahan secara manualdicincang menggunakan pisau ataugolok.4. Kemampuan memusnahkan setiap hari25 Kg sampah organik atau 50 liter bubursampah tercacah, dengan perbandingan11 antara sampah organik dengan Setelah material tercacah dimasukkan,digester, dilengkapi dengan mixerpengaduk manual pada bagian atasdigester, yang bertujuan untukpencampuran yang optimal bagi prosesfermentasi. Lakukan Untuk meningkatkan proses fermentasianaerobik pada digester, masukkanaktivator methana Green Phoskko dilakukan pada saat pengisianbubur organik di Cara menyiapkan aktivator campurkansatu pack aktivator sebanyak 250 gramdengan air yang dicampur denganmolasses tetes tebu sebanyak 5 tidak terdapat molasses, buatlarutan gula dengan cara mencampur 5liter air dengan 500 gram gula Untuk menampung hasil mL, disediakan satu tanki/bak Untuk menampung pupuk organik daridigester, disediakan penampung lumpurslurry yang terbuka/tertutup jeriken. meningkatkan mutu pupuk danmenekan timbulnya bau, berikanaktivator kompos green phoskko GP-1dan penggembur GP-2. kompor, buka terlebih duluvalve selang dari penampung biogas kekompor, kemudian pantik pada bagiannozzle dengan korek/pemantik digester m, dilengkapidengan menambah pemurni methanauntuk meningkatkan kualitas pellet absorben dilakukansetiap 6 bulan Cara pemeliharaan1. Bersihkan reaktor bio-digester danbak inlet dengan Hindarkan membersihkan dengan airmengandung khlorin kaporit, airsabun, air sampo atau sejenisnyakarena akan membuat mikroba yangmenfermentasi sampah menjadi Gunakan air sumur, air hujan, airselokan atau air yang tidakmengandung zat di Penyebab terjadinya kebakaran pt globalmitra proteksindo, 20171. Bahan yang mudah terbakar, yaitubarang padat, cair atau gas kayu,kertas, tekstil, bensin, minyak,acetelin, dll..2. Panas pada lingkungannya memilikisuhu yang tinggi sumber panas darisinar matahari, korsleting listrik,panas dari energi mekanikgesekan, reaksi kimia, dankompresi Adanya zat asam yang kandungan kadar O2yangsemakin besar, maka api akanmenyala semakin hebat, sedangkanpada kadar oksigen kurang dari12%, tidak akan terjadi pembakaranapi. Dalam keadaan normal, kadarO2di udara bebas berkisar 21%,maka udara memiliki keaktifanpembakaran yang faktor tersebut saling mengikatdengan kondisi yang cukup diperhatikan apabila salah satudari tiga unsur di atas tidak ada, makatidak mungkin akan terjadi setiap kebakaran yang terjadi dapatdipadamkan dengan dengan beberapacara PT Global Mitra Proteksindo,2017, yaitu Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega18a. Menurunkan suhunya di bawah Menghilangkan zat Menjauhkan barang-barang yang Mengurangi kadar/persentase O2padabenda-benda yang mudah terbakar,seperti bahan yang berasal dari HASIL DAN PEMBAHASANGas metana dengan CO2 disebut biogasdengan perbandingan 6535. Limbah yangdiproses menjadi kompos memerlukanpersyaratan dasar tertentu. Demikian jugadalam proses pembusukan limbah menjadibiogas, membutuhkan syarat-syarat pembuatan biogas denganmenggunakan daun kering sebaiknyadicampurkan dengan limbah organik, sepertilimbah dari rumah tangga, kotoran ternakatau kotoran manusia, dimana untukmenghasilkan biogas maka perbandinganbahan yang dicampur adalah 43% darilimbah organik dan 27% sisa limbah organik dengan air dibuatdengan perbandingan 1 1. Setelah itumasukkan bahan biogas kedalam reaktor,sebanyak 1000 liter, selanjutnya didalamreaktor tersebut akan berlangsung prosespembusukan yang menghasilkan ditunggu selama 10 hari, makapenampung biogas akan kelihatanmenggembung dan mengeras, itu merupakanciri khas bahwa biogas sudah terbentuk, danbiogas sudah bisa digunakan untuk plastik reaktor biogas di goyang-goyang, agar terjadi penguraian yangsempurna, dan gas yang terbentuk dibagianbawah akan naik keatas, lakukan juga padasetiap pengisian pengisian bahan pembuat biogasselanjutnya dapat dilakukan setiap hari,dengan memasukkan lebih kurang 40 literpagi dan sore pengolahan biogas berupa lumpur,secara otomatis akan keluar setiap kalidilakukan pengisian bahan biogas limbahtanaman.Perbandingan antara unsur C dan N sangatmenentukan kualitas dari daya senyawa organik dari limbahkotoran hewan menjadi CH4 gas metanadan CO2, membutuhkan komposisi rasioC/N antara 20-25. Sehingga apabilamenggunakan rumput saja, maka C/N > 65,sehingga perbandingan CH4CO2 6535tidak akan tercapai. Apabila perbandinganhanya bernilai 4555 atau 5050 atau 4060,maka hasil biogasnya akan mempunyaikualitas daya bakar yang rendah atau kurangmemenuhi syarat sebagai bahan energi. Jugasebaliknya, kalau limbah yang digunakanberbentuk kotoran hewan, dengan rasio C/Nsekitar 8, maka produksi biogas akanmempunyai perbandingan antara CH4 danCO2 9010 Hambali, 2007.Dengan nilai ini maka hasil biogas jugabesar kualitas bakarnya, sehingga akanmembahayakan pengguna. Sehingga alattersebut sebaiknya diletakkan diudara lain yang perlu diperhatikan, yaitu rasioC/N terlalu tinggi atau terlalu rendah akanmempengaruhi proses terbentuknya ini disebabkan karena proses biologiyang memerlukan persyaratan hiduptertentu, seperti juga air yang terkandung dalam bahanyang digunakan harus tepat. Air mempunyaiperan sangat penting di dalam prosespembusukan sehingga terbentuk limbah yang digunakan berbentukkotoran hewan kering yang dicampurdengan sisa-sisa tanaman rumput atausayuran bekas makanan, atau dengan limbahlainnya yang juga kering, maka diperlukanpenambahan air. Tapi berbeda apabilalimbah yang akan digunakan berbentuklumpur yang sudah mengandung bahanorganik tinggi. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega19Suhu reaktor selama proses berlangsungharus dijaga. Suhu lingkungan hidup bakteriprosesor biogas adalah antara 27ºC - temperatur tersebut, prosespembuatan biogas akan berjalan sesuaidengan waktunya. Tetapi berbeda halnya,jika temperatur terlalu rendah dingin, makawaktu untuk menjadi biogas akan menjadilebih lama. Kehadiran bakteri prosesor ataubakteri yang mempunyai kemampuanmenguraikan limbah tanaman dari pembusukan limbah tidak selalumenjadi CH4 yang diharapkan sebagaibahan bakar. Agar keberadaan mikrobapembuat biogas berkembang dengan baik,maka sebaiknya digunakan bahan aditif yangdisebut dengan stater, yaitu bahan atausubstrat yang dipastikan mengandungmikroba metana sesuai dengan pembuatan biogas, udara sama sekalitidak diperlukan. Keberadaan udaramenyebabkan gas CH4 tidak akan itu, bejana pembuat biogas harusdalam kondisi tertutup tersebut merupakan syaratdasar agar proses pembuatan biogas berjalandengan baik. Gambar 4 dan 5 adalah fotoketua dan para anggota pelaksana PKM,serta masyarakat 4. Para Peserta Dan Instruktur DalamAcara Sosialisasi Pemasangan Alat BiogasGambar 5. Para Instruktur Dalam AcaraSosialisasi Pemasangan Alat BiogasLangkah-langkah preventif untuk mencegahkebakaran Dalam sosialisasi ini sangat penting untukdisampaikan penyebab dan penanggulanganterjadinya kebakaran, karena tangki reaktorakan dipenuhi dengan bahan bakar biogasyang dapat terbakar apabila kondisi udaraterlalu panas. Oleh karena itu, tangki reaktordapat diletakkan di luar ruangan yang teduhdan tidak terkena sinar matahari langsung,kemudian dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Selain itu, tangki reaktor harus diceksetiap saat, jika terjadi kebocoran KESIMPULANDari hasil kegiatan PKM, maka dapatdisimpulkan bahwaKadar Air mempunyai peran sangatpenting di dalam proses pembusukansehingga terbentuk biogas.Hasil dari pembusukan limbah tidakselalu menjadi CH4yang diharapkansebagai bahan bakar.Untuk pembuatan biogas denganmenggunakan daun kering sebaiknyadicampurkan dengan limbah organik,Suhu reaktor selama proses berlangsungharus dijaga. Suhu lingkungan hidupbakteri prosesor biogas adalah antara27ºC - 28ºC.Proses pembuatan biogas memakanwaktu selama 10 hari. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia SOSIALISASI DAN INSTALASI ALAT UNTUK MENGKONVERSI LIMBAH TANAMAN MENJADIe-ISSN 2721-0634, p-ISSN 2684-9011 BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR KOMPOR GAS DENGAN CARA SEDERHANAVolume 2 No. 1, Maret 2020 Sitaresmi, Fathaddin, Widiatni, Ridaliani, Mega20Perbandingan antara unsur C dan Nsangat menentukan kualitas dari dayabakarnya. Komposisi terbaik adalah rasioC/N antara 20-25.Kualitas bakar yang besar, akanmembahayakan pengguna. Sehingga alattersebut sebaiknya diletakkan diudaraluar.Secara umum, kegiatan ini dapatmemberikan manfaat yang baik dari sisimateri, seperti pengetahuan tentangpengelolaan dan pemanfaataan limbahyang menjadi energi alternatif.Harapan dari masyarakat setempat adalahagar kegiatan ini dapat diadakan kembaliuntuk disosialisasikan kepadalingkungan masyarakat yang lebih luaslagi, termasuk dapat mempraktekkanpenggunaan alat tersebut.Dengan waktu yang disediakan WIB, dirasakan kuranguntuk menyampaikan materi-materitersebut sehingga belum sempatmemberikan detail materi.Apabila masyarakat serius dalammemanfaatkan limbah, maka tidak perlulagi merasa ketergantungan terhadapLPG.Para peserta memberikan respon yangsangat baik terhadap kegiatan ini, karenatopik yang disampaikan sesuai dengankebutuhan yang dihadapi olehmasyarakat pada umumnya dan jugamateri yang disampaikan dapat diterimadengan baik, mereka berharap dapatsegera dilaksanakan dalam waktu dekat.Proses pembuatan biogas ini sudah lamadisosialisasikan, namun ada beberapadesa yang belum pernah mendapatkaninformasi mengenai pembuatan biogasdari limbah Terima KasihTerima kasih ditujukan kepada1. Dekan Fakultas Teknologi Kebumiandan Energi FTKE, Bapak Dr. Ir. AfiatAnugrahadi, yang telahmemberikan izin, serta dorongan baikmoril maupun Bapak Subagia Muhtar, SH, MH, selakuKepala Bagian Tata Usaha FTKE yangtelah memberikan tempat untukpelaksanaan kegiatan PengabdianKepada Hambali, Siti Mujdalipah, ArmansyahHalomoan tambunan, Abdul WariesPattiwiri, dan roy Hendroko. Bioenergi. Jakarta AgromediaPustakaMarlina, Ekawati. Rahman, BiogasSumber energi alternatifPT Cipta Visi Sinar Mandiri, Manual Book,Biodigester 1000ml, 2017PT Global Mitra Proteksindo. Benny. 2020. Gas-Gas PenyebabEfek Rumah S. 2010. Biogas. Jakarta Sri. 2011. Menghasilkan Biogasdari Aneka Limbah Medan Sri. 2013. Panduan PraktisBiogas. Jakarta Penebar VioletHatta, 2007. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Penyebab Efek Rumah KacaBenny PurbaPurba, Benny. 2020. Gas-Gas Penyebab Efek Rumah Kaca. Masalah energi telah menjadi masalah yang cukup rumit dan sukar dihadapi terutama mengenai energi tak terbarukan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan sebuah inisiasi yang dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi tak terbarukan tersebut. Salah satunya energi yang yang suatu saat akan habis adalah gas, gas diperlukan sebagai bahan bakar tidak hanya di kehidupan rumah tangga melainkan seluruh aktifitas manusia. Maka adapun inisiasi untuk mengakali penggunaan gas bumi dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk dijadikan sebagai biogas yang dapat meringankan beban masyarakat serta menghemat energi. Selain itu limbah kotoran sapi pula dapat dijadikan pupuk kompos yang sangat berguna dalam meregenerasi tanah. Tentunya inisiasi ini sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free © 2021 The Authors. This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution CC-BY license. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Original Research Paper Pemanfaatan Limbah Organik Kotoran Sapi Menjadi Biogas dan Pupuk Kompos Lalu Ali Wardana1*, Nizar Lukman2, Mukmin3, Muhibban Sahbandi4, Mario Sakti Bakti5, Deninta Wasim Amalia6, Ni Putu Ayu Wulandari5, Diana Afrianita Sari5, Cornelius Sopar Nababan7 1Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 2Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 3Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 4Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 5Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 6Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia 7Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia Sitasi Wardana, L. A., Lukman, N., Mukmin., Sahbandi, M., Bakti, M. S., Amalia, D. W. Wulandari, N. P. A., Sarri, D. A., & Nababan, C. S 2021. Pemanfaatan Limbah Organik Kotoran Sapi Menjadi Biogas dan Pupuk Kompos. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 41 Received 05 Desember 2020 Revised 30 Desember 2020 Accepted 08 Februari 2021 *Corresponding Author Lalu Ali Wardana, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia; Email aliwardana Abstract Masalah energi telah menjadi masalah yang cukup rumit dan sukar dihadapi terutama mengenai energi tak terbarukan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan sebuah inisiasi yang dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi tak terbarukan tersebut. Salah satunya energi yang yang suatu saat akan habis adalah gas, gas diperlukan sebagai bahan bakar tidak hanya di kehidupan rumah tangga melainkan seluruh aktivitas manusia. Maka adapun inisiasi untuk mengakali penggunaan gas bumi dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk dijadikan sebagai biogas yang dapat meringankan beban masyarakat serta menghemat energi. Selain itu limbah kotoran sapi pula dapat dijadikan pupuk kompos yang sangat berguna dalam meregenerasi tanah. Tentunya inisiasi ini sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Keywords Energi; Gas bumi; Kotoran sapi ternak; Biogas; Pupuk Kompos. Pendahuluan Permasalahan-permasalahan yang terjadi di zaman globalisasi kini semakin kompleks dan sukar untuk ditangani, salah satunya adalah permasalahan energi, energi merupakan dorongan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehingga ketika energi mengalami krisis akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Permasalahan energi mempunyai kecenderungan untuk meningkat setiap tahunnya, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Di tahun 2008, negara Indonesia keluar dari OPEC dikarenakan kebutuhan impor bahan bakar minyak sudah melebihi kesanggupan ekspornya. Di lain sisi ketersedian cadangan energi fosil berupa gas dan minyak yang terbatas tidak sebanding dengan peningkatan kebutuhan energi. Memang tidaklah terlalu buruk bagi kita untuk bergantung dengan sumber energi fosil namun juga perlu dipikirkan bahwa energi fosil akan habis beberapa dasawarsa lagi. Karena itu, akhirnya mendorong banyak ilmuwan untuk mencari sumber energi alternatif baru untuk menggantikan sumber energi fosil. Energi terbarukan menjadi cukup penting sehingga membuat kestabilan energi tetap terjaga. Dalam hal ini dapat dicontohkan yaitu bahan bakar gas yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga, setiap masyarakat membutuhkan gas untuk memasak, hal ini kemudian menjadi Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 202 tantangan dimana selain harganya yang cukup mahal, gas juga merupakan energi tak terbarukan sehingga dibutuhkan sebuah inisiasi pengganti bahan bakar gas tersebut. Kotoran sapi kebanyakan hanya dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk kandang namun tanpa proses pengolahan. Biasanya kotoran sapi itu hanya dibiarkan mengering di suatu lahan dan setelah kering baru digunakan untuk penyuburan tanah atau tanaman. Kondisi ini tentu dapat merusak lingkungan, terutama pencemaran udara. Sebab kotoran sapi yang masih basah menimbulkan bau tidak sedap. Ini jelas membahayakan kesehatan bagi orang yang menghirupnya. Padahal jika dianalisis kotoran sapi itu sebenarnya dijadikan bahan dasar dalam pembuatan biogas dan pupuk organik. Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik rumah tangga, sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida Biogas sangat berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan. Hal ini dikarenakan kandungan gas metana CH4 yang tinggi dan nilai kalornya yang cukup tinggi yaitu berkisar antara kkal/m3. Dimana gas metana hanya memiliki satu karbon di setiap rantainya yang membuat pembakarannya lebih ramah lingkungan, hal intentunya merupakan inisiasi yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat dimana dapat menciptakan energi terbarukan sendiri serta dapat bernilai ekonomis. Selain biogas Kotoran sapi juga dapat diolah menjadi pupuk Organik. Pupuk Organik merupakan pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Hal ini pun bisa dikatakan memberikan dampak yang sangat positif yang mana kotoran sapi tidak hanya sia-sia namun memberikan keuntungan. Metode Program ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menampilkan gambaran secara detail tentang suatu situasi serta data yang dikumpulkan berupa berupa kata kata atau gambar dan bukan angka. Pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan kajian pustaka yang selanjutnya dianalisis untuk menarik sebuah kesimpulan. Hasil dan Pembahasan a. Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Biogas Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik rumah tangga, sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida Biogas sangat berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan. Hal ini dikarenakan kandungan gas metana CH4 yang tinggi dan nilai kalornya yang cukup tinggi yaitu berkisar antara kkal/m3. Dimana gas metana hanya memiliki satu karbon di setiap rantainya yang membuat pembakarannya lebih ramah lingkungan. Biogas merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat tinggi dan cepat daya nyalanya. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik ataupun untuk pengganti gas elpiji. Penggunaan biogas memiliki keselamatan yang lebih aman jika dibandingkan dengan gas elpiji. Misalnya jika pipa atau penampung gas bocor tidak akan terjadi ledakan karena gas yang keluar akan menguap dengan cepat dan jika api didekatkan ke sumber gas maka tidak akan terjadi semburan api yang menyebabkan kebakaran. Sehingga biogas kotoran sapi ini dapat dikatakan bahan bakar yang aman. Selain itu biogas juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk membangkitkan listrik. Sisa kotoran sapi yang digunakan untuk menghasilkan biogas juga dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk budidaya tanaman atau kegiatan pertanian. Biogas sangat bagus bagi kelestarian lingkungan dan membuat lingkungan menjadi lebih bersih karena pemanfaatan limbah yang biasanya hanya terbuang sia sia dan hanya mencemari lingkungan namun Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 203 dengan teknik tertentu dapat dijadikan biogas yang dapat bermanfaat. Biogas dapat menghemat biaya operasional rumah tangga contohnya pemanfaatan biogas sebagai bahan bakar minyak lebih hemat ketimbahan bahan bakar lainnya misalnya bahan bakar gas. Biogas dapat dijadikan sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk menggantikan bahan bakar solar sebagai pembangkit listrik. Proses pembuatan biogas dari kotoran sapi terjadi karena adanya dekomposisi bahan organik secara anaerob tertutup dari udara bebas. Proses ini akan menghasilkan suatu gas yang sebagian besar mengandung metana dan karbondioksida CO2. Gas yang terbentuk disebut gas rawa atau biogas. Biogas yang terbentuk dapat dijadikan sebagai bahan bakar, karena mengandung gas metana CH4 yang mudah terbakar. Dimana proses pembusukan anaerob yang terjadi dibantu oleh sejumlah mikroorganisme seperti bakteri yang baik untuk proses fermentasi adalah berkisar antara 25-55oC. Saat suhu tersebut, mikroorganisme dapat bekerja secara optimal untuk merombak bahan-bahan organik. Komposisi gas yang terdapat pada pembentukan biogas, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Bangunan utama dari cara membuat biogas dari kotoran sapi untuk instalasi biogas yaitu digester yang fungsinya untuk menampung gas metana dari hasil yang diperoleh dari perombakan bahan-bahan organik yang disebabkan oleh bakteri. Besar kecilnya ukuran digester terlihat dari kotoran sapi yang dihasilkan dan seberapa banyak biogas yang diinginkan. Sebaiknya lokasi dimana akan membangun sebuah digester itu harus berdekatan dengan kandang sapi tersebut supaya kotoran sapi tersebut akan mudah untuk disalurkan ke dalam digester sehingga dapat meringankan proses pembuatan biogas. Pada samping digester bangunlah sebuah penampung lumpur, penampung lumpur ini nantinya dipisahkan dan bisa diolah untuk dijadikan pupuk organik padat dan cair. Adapun langkah-langkah pembuatan biogas menggunakan kotoran sapi sebagai berikut 1. Mencampur kotoran sapi secukupnya dengan air yang telah ditentukan banyaknya terus diaduk sehingga akan terbentuk seperti lumpur dengan suatu perbandingan 21 pada bak yang akan digunakan untuk menampung sementara. 2. Mengalirkan lumpur menuju kelubang pemasukkan digester. Untuk lebih mudahnya dalam memasukkan lumpur ke dalam digester yaitu kran gas yang berada di atas digester harus dibuka terlebih dahulu dan udara yang ada didalam digester pun akan mendesak keluar. Untuk pengisian yang pertama harus membutuhkan banyak lumpur sehingga volume di dalam digester terisi penuh. 3. Lakukan penambahan starter yang jumlahnya 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan yang jumlahnya sebanyak 5 karung untuk kebutuhan kapasitas digester 3,5 sampai 5,0 m2. Setelah digester terisi penuh oleh lumpur, kran gas pada digester harus ditutup sehingga terjadi proses fermentasi. 4. Buanglah gas yang pertama dihasilkan pada hari ke 1 sampai hari ke 8. Pada hari ke 10 hingga hari ke 14 akan terbentuk gas metana CH4 dan gas CO2 dan sudah mulai menurun dalam fermentasi tersebut. Pada hari ke 14 maka akan terbentuk gas yang dapat menyalakan api pada kompor gas. Proses pembentukan biogas dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu 1. Tahap Hidrolisis Hydrolysis Di tahap ini, bakteri memutuskan rantai panjang karbohidrat kompleks; protein dan lipid menjadi senyawa rantai pendek. Contohnya polisakarida diubah menjadi monosakarida, sedangkan protein diubah menjadi peptide dan asam amino. 2. Tahap Asidifikasi Asidogenesis dan Asetogenesis Pada tahap ini, bakteriAcetobacter aceti menghasilkan asam untuk mengubah senyawa rantai pendek hasil proses hidrolisis menjadi asam asetat, hidrogen, dan karbon dioksida. Bakteri tersebut merupakan bakteri anaerob yang dapat tumbuh dan berkembang dalam keadaan asam. Bakteri memerlukan oksigen dan karbondioksida yang diperoleh dari oksigen yang terlarut untuk menghasilkan asam Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 204 asetat. Pembentukan asam pada kondisi anaerobik tersebut penting untuk pembentukan gas metana oleh mikroorganisme pada proses selanjutnya. Selain itu bakteri tersebut juga mengubah senyawa berantai pendek menjadi alkohol, asam organik, asam amino, karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan sedikit gas ini C6H12O6→ 2C2H5OH + 2CO2+ 2ATP -118kJ per mol termasuk reaksi eksotermis yang menghasilkan energi. 3. Tahap Pembentukan Gas Metana Methanogenesis Pada tahap ini, bakteri Methanobacterium omelianski mengubah senyawa hasil proses asidifikasi menjadi metana dan CO2 dalam kondisi anaerob. Proses pembentukan gas metana ini termasuk reaksi eksotermis. Proses pembuatan biogas dengan menggunakan biodigester pada prinsipnya adalah menciptakan suatu sistem kedap udara dengan bagian–bagian pokok yang terdiri dari tangki pencerna digester tank, lubang input bahan baku, lubang output lumpur sisa hasil pencernaan slurry dan lubang penyaluran biogas yang terbentuk. Dalam digester terkandung bakteri metana yang akan mengolah limbah organik menjadi biogas. Sisa limbah dari biogas tersebut dapat dibuat menjadi pupuk kompos. Penggunaan kotoran sapi sebagai suatu inisiasi pembuatan biogas sangatlah diperlukan oleh masyarakat, termasuk di Desa padamara yang telah dilakukan sebuah percontohan pembuatan biogas dari kotoran Sapi oleh Mahasiswa KKN Universitas Mataram. Dalam proses pengolahan biogas tersebut para mahasiswa menggunakan digester sementara yang berlokasi di kandang kolektif desa Padamara. Proses pembuatan biogas memakan waktu kurang lebih 4-5 minggu dan baru menghasilkan gas dengan tekanan yang kecil, aman digunakan dan akan sangat bermanfaat jika terus di kembangkan oleh masyarakat desa. Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN Unram yaitu dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat desa bekerjasama dengan pihak Balai pengkajian Teknologi Pertanian sebagai pemateri dimana penyuluhan dilakukan ke dalam dua tahap yaitu tahap awal perkenalan tentang cara pembuatan dan manfaat biogas selanjutnya tahap kedua penyuluhan tentang hasil dari biogas tersebut kepada masyarakat dengan menggunakan instalasi sementara yang digunakan sebagai sampel. Gambar 1. Instalasi Biogas Sementara Gambar 2. Instalasi Biogas Permanen Gambar 3. Proses Pengolahan Kotoran Sapi menjadi Biogas Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 205 b. Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Kompos Pupuk Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Pupuk kompos bermanfaat untuk menambah kesuburan tanah. Karena adanya penambahan unsur hara, humus, dan bahan organik ke dalam tanah menimbulkan efek residual, yaitu berpengaruh dalam jangka panjang sehingga sifat fisik dan kimia tanah diperbaiki. Pemberian pupuk organik menyebabkan terjadinya perbaikan struktur tanah. Akibatnya sifat fisik dan kimia tanah ikut diperbaiki. Sifat biologi tanah dapat diperbaiki dan mekanisme jasad renik yang ada menjadi beberapa ahli menyebutkan bahwa pemberian pupuk organik akan meningkatkan populasi musuh alami mikroba tanah sehingga menekan aktivitas saprofitik dari patogen tanaman. Keamanan penggunaannya dapat dijamin. Pupuk organik tidak akan merugikan kesehatan ataupun mencemari lingkungan. Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pupuk kompos dari kotoran sapi yaitu 1. Kotoran sapi kering minimal 80 – 83% dan lebih bagus jika bercampur dengan urin 2. Serbuk gergaji atau sekam atau jerami 3. Abu dapur 10% 4. Kapur pertanian 2% 5. Bahan pemacu mikroorganisme Stardec 0,25%. 6. Cairan EM4 Setelah semua bahan tersedia, saatnya lakukan langkah-langkah pengomposan. Cara membuat adalah seperti di bawah ini 1. Campur semua bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan pupuk kompos yaitu kotoran sapi, serbuk gergaji, abu dan kapur dengan merata. kemudian tumpuk di tempat yang terlindungi dari sinar matahari dan hujan secara langsung. Akan lebih baik jika ditumpuk di tempat pembuatan pupuk kompos yang khusus. Biarkan selama 1 hari. 2. Besoknya aduk tumpukan bahan kompos kemudian taburi menggunakan stardec, aduk sampai merata. kemudian tumpuk lagi dengan ketinggian minimal 80 cm. 3. Biarkan tumpukan terbuka sampai 7 hari , namun harus tetap dijaga agar terhindar dari panas dan hujan. Pada hari ke 7, balik tumpukan agar memasok oksigen bisa masuk ke dalam bahan dengan merata. Oksigen dibutuhkan untuk aktivitas mikroba. Pambalikan bahan dilakukan setiap 7 hari sekali. 4. Aktivitas mikroba bisa ditandai dengan adanya peningkatan suhu. Biasanya peningkatan suhu terjadi menjelang hari ke 8 sampai hari ke 21. Pada hari ke 28 suhu akan menurun kembali. Kenaikan suhu yang terjadi bisa sampai 300oC. Suhu yang tinggi ini akan membuat pupuk kompos menjadi steril dari bibit gulma dan bakteri patogen. 5. Campuran kotoran sapi itu sudah menjadi pupuk kompos jika suhu telah netral dan warnanya hitam kecoklatan. 6. Campuran itu kemudian didiamkan beberapa hari untuk proses penguraian. Untuk penguraian tergantung cuaca. Untuk cuaca kering biasanya membutuhkan waktu tiga pekan, sedangkan saat musim hujan lebih lama lagi, yaitu selama enam pekan. Selama proses penguraian, juga harus dibolak-balik, yaitu satu kali seminggu pada musim kering dan saat musim hujan sekali dalam dua Minggu. Untuk pembalikan ini dilakukan tiga kali c. Prinsip pembuatan kompos 1. Menjaga Kelembaban Kelembaban berperanan penting dalam proses pembuatan kompos dan mutu kompos. Kelembaban optimum adalah 50-60 %. Rendahnya kelembaban udara menurunkan proses penguraian, bila terlalu tinggi menghambat aliran udara. 2. Pembalikan Pembalikan diperlukan agar kompos tidak kekurangan udara dan mempercepat proses penguraian. Proses penguraian akan berjalan lambat jika kompos kekurangan udara. Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 206 3. Peneduh Agar proses penguraian bahan organik berlangsung sempurna usahakan tempat pembuatan kompos terlindung dari hujan dan sinar matahari secara langsung. Karenanya tempat kompos perlu dibuatkan pelindung. Setelah penguraian, kotoran sapi yang sudah menjadi pupuk kompos itu selanjutnya digiling sebelum dikemas masih membutuhkan pengayaan lagi agar teksturnya halus. Lalu dikemas dan disalurkan kepada masyarakat khususnya petani. Pembuatan pupuk kompos pun telah dilakukan oleh kelompok KKN Desa Padamara 2018, dimana pupuk kompos dijadikan sebagai salah satu program kerja utama. Pengolahan pupuk kompos sama halnya dengan biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi. Langkah-langkah yang dilakukan pun hampir sama yaitu dengan mengadakan penyuluhan sebanyak dua kali dengan mitra yang sama yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Dalam proses pengolahan pupuk kompos, Kelompok KKN Padamara menggunakan galian sebagai wadah yang kemudian semua bahan terdiri dari kotoran sapi, cairan EM4, kapur, sekam, yakult sebagai perangsang mikroba, yang kemudian ditutup secara rapat selama dua hari kemudian, dibolak balik setiap dua hari sekali hingga melebur dan sepenuhnya menjadi pupuk setelah 35 hari. Setelah pupuk tersebut telah jadi kemudian dikemas dan dibagikan masyarakat sebagai sebuah sampel yang kemudian dapat ditiru dan memberikan keuntungan bagi masyarakat di desa Padamara tersebut. Gambar 4. Proses Pembuatan Pupuk Gambar 5. Pupuk Ditutup Dengan Rapat Gambar 6. Pupuk yang Telah Jadi Gambar 7. Pupuk Telah Dikemas Kesimpulan Kotoran sapi yang dianggap menjadi limbah dan sering meresahkan masyarakat ternyata memiliki potensi dan nilai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika diolah dengan baik kotoran sapi dapat dijadikan beberapa hal yang bermanfaat yaitu biogas dan pupuk kompos. Biogas Wardana et al, Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 2021, 41 201-207 e-ISSN 2655-5263 207 sebagai sebuah inisiasi energi terbarukan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia yang mana selain bernilai ekonomis, juga menciptakan dunia yang hemat energi. Selain itu kotoran sapi jika dijadikan pupuk Kompos juga memiliki potensi yang sangat berguna untuk menjaga kesuburan tanah dan menciptakan hasil panen yang maksimal dalam dunia pertanian. Kelompok KKN Padamara 2018 telah melakukan sebuah pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan kotoran sapi yang pada mulanya dianggap sebagai masalah kini menjadi potensi yang akan sangat berguna dalam kehidupan masyarakat desa, yang mana dengan mengolah kotoran sapi tersebut menjadi biogas dan pupuk kompos. Tentunya inisiasi ini diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat bahkan kotoran sapi yang dianggap sebagai masalah ternyata memiliki potensi yang sangat luar biasa, oleh karena itu diharapkan kepada masyarakat dengan adanya pemberdayaan tersebut masyarakat dapat tergerak dan kemudian melanjutkan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk kompos sehingga akan memberikan keuntungan bagi masyarakat desa Padamara. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih setinggi-tingginya kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan pelatihan ini, terutama pada Bapak Rektor Unram, Ketua Lembaga Pengabdian kepada masyarakat Unram, mahasiswa yang terlibat dan Kepala desa beserta staf, Masyarakat Desa Padamara Lombok Timur yang senantiasa membantu dan menemani kami dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Daftar Pustaka Anonim. “Petunjuk Pembuatan Pupuk Organik/ Kompos”. Universitas Muhammadiyah Palembang Palembang Aprianti, Y. 2005. Andrias Wiji Setio Pamuji Penemu reaktor biogas. Kompas Jakarta. Hartmann, H. dan B. K. Ahring. 2005. “The future biogas productions”. http// /rispubVSYS/syspdf/energconf05/session6 Purwendro, Setyo. 2009. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida organic. Penebar Swadaya, Jakarta Rasti, Diah. Dkk. 2012.“KOMPOS”. Litbang E-book pada Soepardjo, 2005. Energi baru dan terbarukan. Kompas Jakarta Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. ... Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akan mengurangi dampak penggunaan bahan bakar fosil Sulistiyanto, et al., 2016.Jika diolah dengan baik kotoran sapi dapat dijadikan hal yang bermanfaat yaitu biogas. Biogassebagai sebuah inisiasi energi terbarukan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia yang mana selain bernilai ekonomis, juga menciptakan dunia yang hemat energi Wardana, et al., 2021. ... KandariSafril KasimLa Ode SiwiJunartin TekeMasyarakat Desa Aunupe memiliki permasalahan dalam pengelolaan potensi desa khususnya obyek wisata agro agro-ekowisata. Permasalahan yang ada melingkupi aspek lingkungan, pengelolaan, hingga aspek sumber daya manusia. Diantaranya yaitu Desa Aunupe belum memiliki pengelolaan sampah yang baik dan optimal. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah Pengelolaan Agroekowisata Berbasis Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Ekonomi pada Era New Normal Desa Aunupe Kecamatan Wolasi Kabupaten Konawe yang digunakan adalah 1 Ceramah, 2 Diskusi/FGD, 3 Pelatihan, dan4 yang diperoleh yaitu persentase keberhasilan pembuatan pupuk kompos mencapai 90% dan akan mencapai 100% apabila telah digunakan oleh warga masyarakat keberhasilan pembuatan instalasi biogas mencapai 90% dan akan mencapai 100% apabila gas yang dihasilkan dapat dihubungkan langsung ke kompor gas agar dapat digunakan dalam rumah keberhasilan pembuatan ekoenzim mencapai 40% dan akan mencapai 100% apabila masa fermentasi selama 3 bulan telah selesai sehingga cairan yang dihasilkan dapat digunakan masyarakat sebagai penyiram hama tanaman serta pembersih kaca jendela dalam rumah persentase keberhasilan pembuatan ecobrick mencapai 60% dan akan mencapai 100% apabila telah dibuatkan beberapa jenis kerajinan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa sampah mempunyai banyak manfaat yaitu menciptakan lingkungan yang sehat dan peningkatan pendapatan masyarakat sehingga pentingnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai Pengelolaan Agroekowisata Berbasis Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini diperoleh kesimpulan bahwa setelah mengikuti penyuluhan dan pelatihan masyarakat dapat mengetahui manfaat dan cara pengelolaan sampah yang LatifKabupaten Bandung merupakan salah satu sentra peternakan sapi baik sapi potong maupun sapi perah terbesar di Jawa Barat. Pada tahun 2021 jumlah populasi sapi perah sebanyak ekor dan sapi potong sebanyak ekor. Peternakan sapi menghasilkan limbah ternak yang mempunyai dampak negatif bagi makhuk hidup dan lingkungan. Artikel ini membahas terkait potensi pengelolaan limbah ternak sapi dengan pendekatan circular economy. Metode yang digunakan yaitu dengan cara melakukan kajian literatur, mencari sumber referensi atau jurnal baik jurnal nasional maupun jurnal internasional. Dalam penulisan artikel ini juga dilakukan pencairan data dengan menggunakan media online seperti google dan situs-situs jurnal. Selain itu artikel ini juga didukung dengan data-data sekunder terkait peternakan sapi di Kabupaten Bandung. Hasil diskusi menunjukkan bahwa pada tahun 2021 terdapat potensi pengolahan limbah ternak sapi menjadi biogas dan pupuk organik yaitu sebesar m3 gas bio yang setara dengan kWh listrik atau berpotensi menghasilkan pupuk organik. Pengelolaan limbah ternak sapi berbasis circular economy membutuhkan kolaborasi sektor peternakan dengan sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, hortikultura, dan tanaman pangan lainnya. Pendekatan circular economy menekankan pada penggunaan sumber daya secara maksimal dan meminimalisir limbah yang dihasilkan. Penerapan circular economy pada pengelolaan limbah ternak akan mendukung terciptanya pembangunan Hartmann Birgitte K AhringBiogas production has usually been applied for waste treatment, mainly sewage sludge, agricultural waste manure and industrial organic waste streams. Throughout the recent years the performance of biogas reactors has been increased through a better control of the process and improved reactor design based on a better understanding of the process mechanisms and inhibiting factors. In order to improve the economical feasibility of biogas production, a new concept will take over biorefinery. The goal of the biorefinery concept is to convert close to 100% of the incoming biomass into energy or valuable by- products. One of the currently investigated biorefinery concepts for biogas production from manure implies the separation of manure into a solid and a liquid fraction and their specific treatment in a UASB upflow anaerobic sludge blanket reactor and a CSTR continuous stirred tank reactor, respectively. The solid fraction can be pre-treated more adequately and each effluent of the two fractions has specific nutrient contents, which will improve its value as a fertilizer Pembuatan Pupuk Organik/ KomposAnonimAnonim. "Petunjuk Pembuatan Pupuk Organik/ Kompos". Universitas Muhammadiyah Palembang PalembangMengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida organicSetyo PurwendroPurwendro, Setyo. 2009. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida organic. Penebar Swadaya, JakartaKOMPOS". Litbang E-book pada RastiDkkRasti, Diah. Dkk. 2012."KOMPOS". Litbang E-book pada Organik Menuju Pertanian Alternatif dan BerkelanjutanR SutantoSutanto, R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Sistem pembekaran yang terjadi pada tunggu/kompot biomassa tradisional memberi berdampak buruk terhadap kesehatan pengguna karena efesiensi pembakaran yang rendah mengakibatkan timbulnya banyak asap yang menggangu kesehatan pengguna. Pada kegiatan community service ini, diperkenalkan sebuah model kompor biomassa yang telah dikembangkan dan memiliki sistem pembakaran yang lebih sempurna, sehingga efesiensinya jauh lebih baik. Kegiatan ini berbentuk penyuluhan atau sosialisasi yang menjelaskan kepada masyarakat tentang kompor biomassa semi gasifikasi, nilai ekonomis dari penggunaan kompor biomassa semi gasifikasi, kelebihan menggunakan kompor biomassa, dan hubungan efesiensi pembakaran terhadap pembakaran, dampak positif bagi kesehatan serta bagian-bagian penting dari kompor biomassa semi gasifiksi. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk memantapkan pemahaman mereka terhadap kompor biomassa yang telah dikembangkan serta mencerahkan keraguan mereka. Kegiatan ini berjalan lancar dan diterima baik oleh masyarakat, terlihat dari keaktifan mereka dalam berinteraksi dengan pemateri tentang kompor biomassa selama kegiatan berlangsung. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 Dapat diakses secara online di Buletin Pembangunan Berkelanjutan Penerbit Universitas Islam Riau UIR Press Kompor Biomassa Sebagai Salah Satu Teknologi Tepat Guna Masyarakat Pedesaan Jhonni Rahman1 1Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Riau, Jln. Kaharuddin Nasution Km. 113 Marpoyan, Pekanbaru, Riau, Indonesia – 28284 *Penulis koresponden jhonni_rahman Riwayat Dikirim 1 Desember 2021 Direvisi 30 Desember 2021 Diterima 31 Desember 2021 Sistem pembekaran yang terjadi pada tunggu/kompot biomassa tradisional memberi berdampak buruk terhadap kesehatan pengguna karena efesiensi pembakaran yang rendah mengakibatkan timbulnya banyak asap yang menggangu kesehatan pengguna. Pada kegiatan community service ini, diperkenalkan sebuah model kompor biomassa yang telah dikembangkan dan memiliki sistem pembakaran yang lebih sempurna, sehingga efesiensinya jauh lebih baik. Kegiatan ini berbentuk penyuluhan atau sosialisasi yang menjelaskan kepada masyarakat tentang kompor biomassa semi gasifikasi, nilai ekonomis dari penggunaan kompor biomassa semi gasifikasi, kelebihan menggunakan kompor biomassa, dan hubungan efesiensi pembakaran terhadap pembakaran, dampak positif bagi kesehatan serta bagian-bagian penting dari kompor biomassa semi gasifiksi. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk memantapkan pemahaman mereka terhadap kompor biomassa yang telah dikembangkan serta mencerahkan keraguan mereka. Kegiatan ini berjalan lancar dan diterima baik oleh masyarakat, terlihat dari keaktifan mereka dalam berinteraksi dengan pemateri tentang kompor biomassa selama kegiatan berlangsung. Kata Kunci Tungku tradisional Efisiensi pembakaran Kompor biomassa Kesehatan PENDAHULUAN Sebagai daerah agraris Riau merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber energy yaitu biomassa. Dengan banyaknya biomassa yang ada di propinsi Riau, masyarakat pedesaan dapat memanfaatkan biomassa tersebut untuk berbagai kebutuhan. Salah satu bentuk pemanfaatan biomassa yang sering dilakukan di daerah pedesaan ialah sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak rumah tangga sehari-hari. Namun, pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar di pedesaan masih belum optimal karena masih menggunakan cara dan alat tradisional yang memberi dampak negative bagi pengguna Pathak et al., 2019. Diantaranya adalah permasalahan ganguan pernafasan pernafasan yang sering ditemukan pada masyarakat pengguna kompor masak tradisional Robin, et al., 1996. Bahkan tidak sedikit masalah tersebut merambah ke anak-anak dibawah umur yang secara tidak sengaja menghirup asap hasil pembakaran dari kompor tradisional ketika memasak. WHO telah mengeluarkan keterangan bahwa lebih dari 10% kematian dini yang terjadi pada anak-anak dibawah 5 tahun akibat penyakit pneumonia yang bersumber dari partikel-partikel halus yang berasal dari asap pembakaran kompor tradisional Statistik WHO, 2014. Dan kasus seperti ini sering terjadi di daerah pedesaan yang memiliki ekonomi relative rendah. Sehingga meskipun mereka menyadari atau merasakan efek buruk dari asap kompor Buletin Pembangunan Berkelanjutan Vol. 5 No. 3, Desember 2021 hal. 1-6 2 H a l a m a n DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 tradisional, mereka masih terpaksa untuk tetap menggunakannya. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan alasan, bisa jadi dikarenakan susahnya mendapatkan bahan bakar fosil dan gas karena wilayah yang sulit terjangkau. Bisa jadi karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan bagi masyarakat ekonomi rendah untuk membeli bahan bakar fosil dan gas. Ditambah lagi dengan harga bahan bakar fosil yang terus melambung. Sementara itu di pedesaan masyarakat tidak membutuhkan dana sedikitpun untuk mendapatkan bahan bakar mengingat sumber bahan bakar alami tersedia melimpah disekitar mereka. Sehingga mereka bisa menyisihkan uang mereka untuk keperluan penting lainnnya. Gambar 1 adalah contoh kondisi masyarakat yang menggunakan kompor biomassa tradisional untuk memasak. Foto ini menggambarkan salah satu kebiasaan masyarakat setempat yang sering memasak sambil menggendong anak mereka. Gambar 1. Tungku masak tradisional di pedesaan Giyanto, 2020 Dalam ilmu konversi energi, timbulnya banyak asap akibat pembakaran menunjukkan proses pembakaran secara tradisional masih terlalu jauh dari sempurna. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti dalam maupun luar negeri efisiensi pembakaran dengan menggunakan cara tradisional masih sangat rendah yaitu sebesar kurang dari 15 % tergantung bahan bakar Julita et al., 2019. Hal ini menunjukkan bahwa potensi energi yang ada pada bahan bakar biomassa masih belum dimamfaatkan dengan baik, sehingga sering menjadi pemborosan dalam penggunaan bahan bakar biomassa. Optimalisasi performa biomassa untuk kebutuhan memasak, dapat dilakukan pada dua aspek, yaitu aspek bahan bakar dan aspek alat pembakaran dalam hal ini adalah kompor. Optimalisasi biomassa dalam aspek bahan bakar biasanya dilakukan dengan membuat bahan bakar biomassa menjadi bentuk yang lebih mudah digunakan dan performa yang lebih baik seperti briket, peningkatan kualitas, dan lain lain Elfiano, 2013; Elfiano et al., 2014. Sedangkan dalam aspek media pembakaran dapat dikembangkan melalui pembuatan model kompor biomassa yang mampu menghasilkan proses pembakaran yang lebih sempurna Rahman, 2015. Untuk masyarakat pedesaan pengembangan kompor biomassa merupakan solusi yang paling tepat dalam mengurangi masalah ditinjau dari berbagai aspek. Sejauh ini sudah banyak model model kompor biomassa yang memiliki efesiensi pembakaran yang memiliki efesiensi pembakaran yang lebih baik dari pada kompor tradisional, seperti kompor biomassa gasifikasi yang telah dikembangkan saat ini Julita et al., 2019. Sistem pembakaran yang terjadi pada kompor gasifikasi jauh lebih bersih dari pada kompor tradisional karena emisi yang dihasilkan jauh lebih sedikit. Sehingga tidak hanya less risk bagi pengguna tetapi juga hemat bahan bakar. Dan yang terpenting adalah penggunaan kompor biomassa dengan performa yang lebih baik mampu meningkatkan Kesehatan pengguna karena efek buruk dari asap sisa pembakaran dapat diminimalisir dengan baik Adler, 2010. Kegiatan community service melalui penyuluhan ini dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu menginformasikan kepada masyarakat setempat dampak negative asap bagi kesehatan pengguna dan orang terdekat mereka yang ditimbulkan ketika memasak menggunakan kompor/tungku tradisional. Buletin Pembangunan Berkelanjutan Vol. 5 No. 3, Desember 2021 hal. 1-6 3 H a l a m a n DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 Selanjutnya, kegiatan ini juga dilakukan untuk memperkenalkan salah satu model kompor biomassa gasifikasi natural yang dikembangkan oleh Prodi Teknik Mesin Universitas Islam Riau UIR sebagai salah satu solusi implementasi teknologi tepat guna ditengah-tengah masyarakat serta kelebihannya dibandingkan kompor biomassa tradisional. Gambar 2 adalah foto dari kompor biomassa semi gasifikasi hasil pengembangan Prodi Teknik Mesin UIR Rahman, 2015. Gambar 2. Tungku biomassa semi gasifikasi pengembangan Prodi Teknik Mesin UIR METODE PELAKSANAAN Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di desa Danau Pulai Indah kecamatan Kempas Jaya kabupaten Indragiri Hilir pada tanggal 8 Agustus 2016. Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan kegiatan ini diatur sedemikian rupa sehingga dapat berjalan dengan baik dari sebelum penyuluhan diadakan sampai akhir kegiatan dengan beberapa tahapan, yaitu, 1. Tahap persiapan Tahapan ini dilakukan dengan menghubungi pihak kelurahan jauh hari sebelum kegiatan dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk menginformasikan pihak pimpinan desa akan maksut dan tujuan kegiatan serta manfaat yang didapatkan dari kegiatan ini. Hal ini juga ditujukan agar informasi mengenai pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebar dengan baik sehingga pengetahuan tentang teknologi tepat guna ini tersampaikan kepada sebagian besar masyarakat. Selain itu, persiapan kelengkapan perangkat pada prototip kompor biomassa yang dipresentasikan sebagai model dicek dengan teliti agar permasalahan teknis tidak terjadi. 2. Tahap penyuluhan Tahapan ini merupakan tahapan inti yang berhubungan langsung dengan masyarakat setempat. Pada tahapan ini kegiatan penyuluhan/sosialisasi kompor biomassa dilaksanakan dengan urutan pengenalan tentang pemanfaatan sumber daya alam. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian dampak-dampak buruk yang ditimbulkan dari penggunaan tungku tradisional berdasarkan data-data yang meyakinkan dari sumber-sumber terpecaya, memperkenalkan sebuah model kompor biomassa yang memiliki performa yang lebih baik, aman, serta serta hemat pemakaian bahan bakar, dan lain lain. 3. Tahap diskusi Pada tahapan ini interaksi antara narasumber dan perserta dilaksanakan melalui tanya jawab langsung. Dan untuk membuat suasana lebih hidup, diskusi tidak hanya melibatkan dosen dan masyarakat, tetapi juga mahasiswa dari daerah local. Pada tahapan ini diskusi tidak hanya membahas tentang teknologi tepat guna kompor biomassa semi gasifikasi, tetapi juga menerima masukan dari masyarakat setempat tentang masalah-masalah lain yang mereka alami dan teknologi tepat guna lainnya yang mereka butuhkan. Buletin Pembangunan Berkelanjutan Vol. 5 No. 3, Desember 2021 hal. 1-6 4 H a l a m a n DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pembahasan Kegiatan Gambar 3 sampai Gambar 5 menunjukkan suasana kegiatan ketika narasumber memberikan penjelasan kepada peserta penyuluhan, dilanjutkan interaksi tanya jawab dengan perserta penyuluhan dan penjelasan yang lebih spesifik tentang bagian-bagian kompor biomassa gasifikasi. Penyampaian materi penyuluhanMateri penyuluhan tentang kompor biomassa yang disampaikan pada kegiatan ini meliputi penjelasan tentang kompor biomassa, aspek-aspek penting terkait kompor biomassa, alasan dan keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan kompor biomassa, peranan kompor biomassa dalam mengurangi efek buruk hasil pembakaran, sejauh mana energi yang dapat dihemat dengan menggunakan kompor biomassa, serta menjelaskan model dan bagian-bagian dari kompor biomassa yang telah dirancang oleh Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Riau. Ceramah interaktif yang dilakukan dengan bantuan ilustrasi gambar dan foto pada slide power point sangat membantu peserta kegiatan dalam memahami informasi yang disampaikan. Metode ini juga memudahkan dalam penjelaskan contoh-contoh pemanfaatan sumber daya alam disekitar masyarakat yang tidak/belum termanfaatkan untuk diolah dan dijadikan bahan bakar yang dapat digunakan pada kompor biomassa. Pokok pembahasan yang disampaikan adalah sebagai berikut, 1. Teknologi tepat guna di rumah tangga, 2. Alasan memasak dengan menggunakan kayu/biomassa, 3. Kerugian memasak dengan menggunakan kompor biomassa tradisional, 4. Bahaya yang ditimbulkan oleh asap sisa pembakaran kompor tradisional, 5. Keuntungan memasak dengan rancangan kompor biomassa, 6. Model dan bagian-bagian dari rancangan kompor biomassa, 7. Bahan bakar yang dapat digunakan pada kompor biomassa. Pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh peserta dalam hal memasak dengan menggunakan kompor/tungku tradisional maupun pertanyaan yang berhubungan dengan materi penyuluhan disampaikan pada sesi diskusi dan tanya jawab, sehingga materi yang disampaikan lebih jelas dipahami dan manfaat yang dirasakan terkait dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh kebanyakan orang tua. Selain itu hal-hal lain yang dirasakan oleh masyarakat terkait dengan cara pengolahan sampah untuk menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar juga didiskusikan bersama untuk mencari solusi yang tepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Termasuk juga didalamnya membahas tentang teknologi-teknologi tepat guna yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Gambar 3. Penyampaian materi penyuluhan oleh narasumber Buletin Pembangunan Berkelanjutan Vol. 5 No. 3, Desember 2021 hal. 1-6 5 H a l a m a n DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 Gambar 4. Tanya jawab dengan peserta penyuluhan Gambar 5. Penjelasan detail tentang fungsi setiap bagian kompor biomassa 2. Evaluasi Kegiatan Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat yang terjadi dalam melaksanakan program pengabdian pada masyarakat ini. Secara garis besar faktor pendukung dan penghambat tersebut dapat kami jelaskan sebagai berikut a. Faktor Pendukung 1 Tersedia fasilitas yang memadai berupa laptop, proyektor, kamera digital, pengeras suara dan pointer dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat ini, 2 Antusiasme para peserta yang cukup tinggi terhadap materi penyuluhan, 3 Dukungan dari pihak Kantor Desa yang menyambut baik pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan membantu tim pengabdian mengatur waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, 4 Ketersediaan dana pendukung dari Lembaga Pengabdian pada masyarakat LPM-UIR guna penyelenggaraan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini b. Faktor Penghambat 1. Peserta penyuluhan terdiri dari berbagai perbedaan kalangan usia dan latar belakang pendidikan sehingga ada kekhawatiran materi yang disampaikan tidak dapat ditangkap sepenuhnya, terutama untuk warga yang latar belakang pendidikannya sangat rendah. 2. Keterbatasan waktu untuk pelaksanaan penyuluhan sehingga beberapa materi tidak dapat disampaikan secara baik. Buletin Pembangunan Berkelanjutan Vol. 5 No. 3, Desember 2021 hal. 1-6 6 H a l a m a n DOI eISSN 2714-9692 pISSN 2528-3588 3. Tempat pelaksanaan didalam ruangan sehingga tidak dapat dilakukan demostrasi untuk melihat bagaimana kinerja kompor biomassa dibandingkan kompor tradisional yang telah ada dimasyarakat. KESIMPULAN Program pengabdian pada masyarakat berupa penyuluhan mengenai keunggulan kompor biomassa dibandingkan kompor-kompor tradisional terhadap kesehatan dan penghematan bahan bakar ini diharapkan mampu menambah wawasan, pengetahuan dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan penggunaan kompor biomassa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu pada kesempatan ini juga diperkenalkan pengembangan kompor biomassa semi gasifikasi dan bagian-bagian-bagian penting di dalam kompor biomassa semi gasifikasi hasil rancangan Program Studi Teknik Mesin Universitas Islam Riau. Dengan diperkenalkan bagian-bagian dari kompor biomassa semi gasifikasi diharapkan masyarakat sekitar dapat mencontohnya, membuat dan menggunakan model kompor tersebut untuk kebutuhan memasak. Selain itu bagi masyarakat yang memiliki kemampuan/skill dalam membuat kompor tersebut, maka hal ini dapat dijadikan sebagai sarana baru dalam meningkatkan taraf hidup mereka. Program kegiatan penyuluhan ini disertakan dengan modul materi sehingga peserta dapat mengambil pelajaran/informasi mengenai perbandingan menggunakan kompor biomassa semi gasifikasi dengan kompor-kompor biomassa tradisional yang dipergunakan oleh masyarakat selama ini. Kegiatan ini mendapat sambutan sangat baik dari seluruh peserta dan dinas terkait yang terbukti dengan keaktifan peserta mengikuti penyuluhan dengan tidak meninggalkan tempat sebelum waktu penyuluhan berakhir, serta adanya permintaan masyarakat setempat untuk diadakan kembali kegiatan lanjutan tentang workshop cara pembuatan kompor biomassa semi gasifikasi. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada Universitas Islam Riau atas izin dan dukungan finansial sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Begitu juga halnya kepada pihak kelurahan desa Pulai Indah Kec. Kempas Jaya Kab. Indragiri Hilir, telah bersedia menerima kami dan menyebar luaskan informasi kegiatan ini kepada masyarakat desa Pulai Indah. DAFTAR PUSTAKA Adler, T., 2010. Better Burning, Better Breathing; Improving Health with Cleaner Cook Stoves. Enviromental Health Perspectives, 1183. Elfiano, E., Natsir, M., & Indra, D. 2014. Analisa Proksimat Briket Bioarang Campuran Limbah Ampas Tebu dan Arang Kayu. In Seminar Nasional Teknik Mesin Universitas Trisakti. Elfiano, E. Analisa Karakteristik Pembakaran Briket Tongkol Jagung dengan Proses Karbonisasi dan Non-Karbonisasi. Giyanto, G. 2020. Kajian Preferensi Penggunaan Kompor Biomassa Pelet kayu Sebagai Alternatif pengganti Tungku Tradisional. In Prosiding Seminar Nasional NCIET. 11, 6-19. Julita, R., Rionaldo, H., Andrio, D., & Zulfansyah, Z. 2019. Performa kompor gasifikasi champion stove. Pathak, U., Kumar, R., Suri, T. M., Suri, J. C., Gupta, N. C., & Pathak, S. 2019. Impact of biomass fuel exposure from traditional stoves on lung functions in adult women of a rural Indian village. Lung India Official Organ of Indian Chest Society, 365, 376. Rahman, J. 2015. Perancangan Kompor Biomassa Yang Bebas Polusi. Jurnal Relevansi, Akurasi Dan Tepat Waktu RAT, 41, 555-561. Robin, L. F., Lees, P. S., Winget, M., Steinhoff, M., Moulton, L. H., Santosham, M., & Correa, A. 1996. Wood-burning stoves and lower respiratory illnesses in Navajo children. The Pediatric infectious disease journal, 1510, 859-865. World Health Organization. 2014. World Health Statistics ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Tina AdlerEvery morning and evening, millions of women in India spend an hour or two cooking their rice, dal, curry, and roti or other flat bread. Most will prepare their meals over a smoky, 3-stone open fire or a traditional clay or brick cook stove called a chulha. The stoves burn a mix of wood, hay, or cow dung that the women collect from around their homes or, at times, far from the safety of their villages. The old-fashioned chulhas cook slowly, imparting a delicious flavor to the food that many Indians love. But everyone—from the women cooking their meals to international health experts—knows the smoke from the fires has a dark side, literally and figuratively. Users say the smoke burns their eyes and blackens their pots and kitchen walls. Climatologists such as Veerabhadran Ramanathan, a professor at the University of California, San Diego, say the black carbon soot from the smoke, which blankets the villages, contributes to anthropogenic climate change. Health experts report that smoke exposure increases the risk of numerous diseases. “Day in and day out, and for hours at a time, women and their small children breathe in amounts of smoke equivalent to consuming two packs of cigarettes per day,” the World Health Organization WHO reported in the 2006 report Fuel for Life Household Energy and Health. To date, the few nongovernmental organizations, companies, and development and public health agencies that have tried to replace these traditional stoves have met with only isolated successes in large-scale programs. Now India intends to launch one of the largest improved cook stove initiatives in the world, its government announced in December 2009. Although several other governments have stove replacement programs, India’s has a larger potential than most. Clean-stove experts warn there is no one perfect stove or stove program that will solve India’s—or any other country’s—problem with smoke exposure. “Almost certainly, we need a range of options for different groups defined by geography, socioeconomic level, and culture,” says Nigel Bruce, a consultant to the WHO and senior lecturer at the University of Liverpool. “It is possible that a common technology could be at the core of these, but I would not assume that either.”Background Acute lower respiratory illnesses ALRI have been associated with exposure to domestic smoke. To examine further this association, a case-control study was conducted among Navajo children seen at the Public Health Service Indian Hospital at Fort Defiance, AZ. Methods Cases, children hospitalized with an ALRI n = 45, were ascertained from the inpatient logs during October, 1992, through March, 1993. Controls, children who had a health record at the same hospital and had never been hospitalized for ALRI, were matched 11 to cases on date of birth and gender. Home interviews of parents of subjects during March and April, 1993, elicited information on heating and cooking fuels and other household characteristics. Indoor air samples were collected for determination of time-weighted average concentrations of respirable particles <10 μm in diameter. Results Age of cases at the time of admission ranged from 1 to 24 months median, 7 months; 60% of the cases were male. Matched pair analysis revealed an increased risk of ALRI for children living in households that cooked with any wood odds ratio OR, 95% confidence interval CI, to had indoor air concentrations of respirable particles ≥65 μg/m3 90th percentile OR 95% CI to and where the primary caretaker was other than the mother OR 9, 95% CI to Individual adjustment for potential confounders resulted in minor change <20% in these results. Indoor air concentration of respirable particles was positively correlated with cooking and heating with wood P < but not with other sources of combustion emissions. Conclusions Cooking with wood-burning stoves was associated with higher indoor air concentrations of respirable particles and with an increased risk of ALRI in Navajo Proksimat Briket Bioarang Campuran Limbah Ampas Tebu dan Arang KayuE ElfianoM NatsirD IndraElfiano, E., Natsir, M., & Indra, D. 2014. Analisa Proksimat Briket Bioarang Campuran Limbah Ampas Tebu dan Arang Kayu. In Seminar Nasional Teknik Mesin Universitas Karakteristik Pembakaran Briket Tongkol Jagung dengan Proses Karbonisasi dan Non-KarbonisasiE ElfianoElfiano, E. Analisa Karakteristik Pembakaran Briket Tongkol Jagung dengan Proses Karbonisasi dan Preferensi Penggunaan Kompor Biomassa Pelet kayu Sebagai Alternatif pengganti Tungku TradisionalG GiyantoGiyanto, G. 2020. Kajian Preferensi Penggunaan Kompor Biomassa Pelet kayu Sebagai Alternatif pengganti Tungku Tradisional. In Prosiding Seminar Nasional NCIET. 11, of biomass fuel exposure from traditional stoves on lung functions in adult women of a rural Indian villageR JulitaH RionaldoD AndrioZ ZulfansyahU PathakR KumarT M SuriJ C SuriN C GuptaS PathakJulita, R., Rionaldo, H., Andrio, D., & Zulfansyah, Z. 2019. Performa kompor gasifikasi champion stove. Pathak, U., Kumar, R., Suri, T. M., Suri, J. C., Gupta, N. C., & Pathak, S. 2019. Impact of biomass fuel exposure from traditional stoves on lung functions in adult women of a rural Indian village. Lung India Official Organ of Indian Chest Society, 365, Health Organization. 2014. World Health Statistics Manfaat Biogas – Energi biogas merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sangat potensial karena mempunyai biaya produksi yang rendah. Peternakan sapi adalah salah satu tempat yang dapat menjadi tempat penghasil biogas. Biogas merupakan sumber energi ramah lingkungan yang dapat membantu kita akan ketergantungan terhadap energi listrik, elpiji maupun BBM. Dalam pembuatan biogas membutuhkan teknologi yang dapat memanfaatkan proses fermentasi secara berkelanjutan sampah organik secara anaerobik oleh bakteri untuk menghasilkan gas bakar. Secara sederhana semua sumber limbah organik sebagai bahan dasar biogas akan ditampung pada suatu tempat tertutup. Kemudian dari tepat itu dipasang pipa untuk mengalirkan gas yang dihasilkan. Dampak Biogas Dalam pemanfaatannya, penggunaan biogas juga mempunyai dampak baik positif maupun negatif. Berikut kedua dampak tersebut dari penggunaan biogas sebagai sumber energi alternatif 1. Dampak positif biogas Mengurangi penggunaan gas alam. Memanfaatkan kotoran hewan ternak. 2. Dampak negatif biogas Proses pembuatan biogas yang mungkin dapat mencemari udara. Membutuhkan penanganan khusus dan peralatan yang tidak murah. Manfaat Biogas Namun patut ditekankan disini adalah dalam pemanfaatan kotoran ternak seperti sapi untuk menghasilkan biogas diperlukan syarat terkait yang memenuhi. Syarat ini yaitu aspek teknis, manajemen, sumber daya manusia dan infrastruktur yang layak. Dengan terpenuhinya syarat tersebut maka pemanfaatan biogas di pedesaan akan berjalan dengan optimal untuk memenuhi kebutuhan energi. Selain sebagai sumber energi, biogas juga mempunyai manfaat lain yaitu 1. Menjaga Alam Tetap Lestari Biogas merupakan sumber energi yang ramah lingkungan dan murah, hal ini karena pemanfaatan biogas yang optimal dapat mengurangi volume limbah organik seperti kotoran ternak. Kotoran ternak yang dibiarkan terbuang begitu saja juga dapat mencemari lingkungan apabila terkumpul dalam jumlah besar, selain itu juga akan menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, biogas juga mempunyai pembakaran yang lebih bersih dibandingkan sumber energi lain seperti BBM dan batu bara yang tentunya akan lebih ramah lingkungan. 2. Melawan Efek Rumah Kaca Penggunaan dan pemanfaatan biogas juga dapat menjadi cara untuk melawan efek rumah kaca. Seperti yang kita tahu bahwa efek rumah kaca juga disebabkan karena penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan. Biogas dapat melawan efek rumah kaca dengan cara sebagai berikut Menggantikan penggunaan bahan bakar fosil untuk energi listrik maupun kebutuhan memasak. Salah satu penyebab efek rumah kaca adalah gas metana yang dihasilkan dari kotoran ternak. Dengan dimanfaatkannya gas tersebut maka dapat mengurangi jumlah gas metana yang ada di udara sehingga dapat menekan efek rumah kaca. Gas metana yang terbakar dalam pemanfaatan biogas akan menghasilkan karbondioksida yang nantinya dapat diserap oleh tumbuhan untuk menghasilkan oksigen.

penggunaan kompor biogas sangat bermanfaat bagi masyarakat daerah karena dapat